Green Room (2016) Review

Film arahan Jeremy Saulnier ini menceritakan tentang sebuah punk rock band yang tak sengaja menjadi saksi mata pembunuhan dan akhirnya harus disekap di sebuah ruangan hijau (green room) untuk kemudian dieleminasi. Berbagai cara pun dilakukan untuk bisa keluar dari ruangan itu, meski nyawa terpaksa jadi taruhannya.

Band tersebut beranggotakan empat orang: Pat (Anton Yelchin), Sam (Alia Shawkat), Reece (Joe Cole), dan Tiger (Callum Turner). Ditambah dua orang lagi, Amber (Imogen Poots) teman dari Emily (Taylor Tunes) yang terbunuh, dan Big Justin (Eric Edelstein) seorang tukang pukul, jadilah mereka berenam dalam ruangan hijau tersebut. Seiring waktu berjalan jumlah penghuni ruangan hijau semakin berkurang.

Tak seperti film-film thriller bertemakan ‘room‘ pada umumnya yang tidak membiarkan penghuninya keluar dari ruangan sedikitpun (kecuali di bagian akhir cerita), dalam film ini kita dapat melihat penghuni ruangan hijau sesekali meninggalkan ruangannya, namun setiap kali mereka kembali ke ruangan itu jumlah mereka selalu tidak lengkap.

Sesuai dengan judulnya, rupa film ini didominasi oleh warna hijau kelam. Atmosfir yang gelap dan aspect ratio 2.35:1 menggenggam penonton ke dalam cerita.

Awal film yang menyejukkan lewat pemandangan alam hijau dan tenang kemudian berubah menjadi ‘mimpi buruk’ yang mengerikan. Kekerasan brutal dan ekstrim terjadi tanpa ampun, mulai dari menggunakan box cutter sampai anjing buas. Ketegangan semakin intens dari waktu ke waktu.

Remaja-remaja yang awam dalam dunia kejahatan, remaja-remaja yang memperoleh kesenangan dalam melakukan kejahatan, remaja perempuan yang berani, bos club yang licik dan tak berperasaan, kaki tangan bos yang tak sepenuhnya baik tak juga sepenuhnya jahat, dan anjing buas yang setia pada majikannya yang jahat merupakan karakter-karakter kuat yang menambah kaya film ini.

Bayangan Professor X yang melekat pada diri Patrick Stewart tidak dapat mencegah karakter Darcy untuk menuai kebencian, karakter yang ia mainkan di film ini. Anehnya gue lebih menikmati Stewart saat memerankan bos penjahat ketimbang saat memerankan bos superhero di film Marvel.

Mungkin itulah yang membuat orang menyukai film dengan genre ini, thriller horror, karena ampuh mengusir rasa bosan.

Rate: 8/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s