The Grand Budapest Hotel (2014) Review

Film dengan gaya unik sutradara Wes Anderson membawa kita dalam petualangan kocak, indah dan menegangkan. Petualangan seorang penjaga pintu legendaris sebuah hotel terkenal bernama Gustave H (Ralph Fiennes) dan seorang lobby boy bernama Zero Moustafa yang kemudian menjadi teman terpercayanya.

55j

Dari 9 nominasi di Oscar 2015, film ini berhasil memenangkan 4 piala antara lain untuk kategori:

  • Best Achievement in Costume Design (Milena Canonero)
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling (Frances Hannon & Mark Coulier)
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score (Alexandre Desplat)
  • Best Achievement in Production Design (Adam Stockhausen & Anna Pinnock)

dan sebuah piala Golden Globe (2015) untuk kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical dari 4 nominasi. The Grand Budapest Hotel merupakan film pertama Anderson yang memenangkan Oscar.

Elemen paling menonjol dari film ini adalah sinematografi yang memorable. Gerakan kamera whip pan yang tak asing lagi (ingat Moonrise Kingdom pada tahun 2012 dan The Royal Tenenbaums pada tahun 2001) dan balutan warna-warni elok seperti merah, merah muda, kuning, oranye, biru dan abu-abu, menjadikan The Grand Budapest Hotel bak lukisan bergerak yang membuat kita ingin nonton lagi dan lagi. Sama halnya dengan Moonrise Kingdom dan The Royal Tenenbaums, di sini Anderson juga menggandeng sinematografer Robert Yeoman.

Cerita di film ini berlangsung dalam tiga tahun berbeda: 1932, 1968 dan 1985. Aspect ratio yang digunakan untuk masing-masing tahun pun berbeda: 1.85:1 untuk tahun 1985, 1.37:1 untuk tahun 1932, dan 2.35:1 untuk tahun 1968.

55-155-255-3

Karakter Moustafa tua dan Moustafa muda masing-masing diperankan oleh F. Murray Abraham dan Tony Revolori.

 Kiri: Moustafa tua. Kanan: Moustafa muda

Revolori cukup istimewa di film ini. Penampilannya menghibur. Tampak jelas ia suka dengan karakter yang diperankannya.

Hubungan antara Moustafa dan Gustave mengingatkan kita pada hubungan antara Royal Tenenbaum (Gene Hackman) dan Pagoda (Kumar Pallana) di The Royal Tenenbaums. Hubungan yang menyimbolkan kepercayaan dan kesetiaan.

Karakter Agatha (Saoirse Ronan) yang terinspirasi dari tokoh Agatha Christie, penulis novel detektif yang terkenal itu, memberikan penampilan berbeda yang tidak kita temukan di film-film sebelumnya seperti Hanna (2011) atau Violet & Daisy (2011).

55g

Hal ini benar-benar menyegarkan.

Karakter yang cukup mengejutkan adalah Madame D (Tilda Swinton). Hasil dandanan empat jam yang menyulap Swinton menjadi janda bangsawan berumur 84 tahun membuat gue, yang melihat film ini tanpa membaca daftar pemeran terlebih dahulu, sama sekali tidak mengenalinya.

  Kiri: Tilda Swinton. Kanan: Madame D

The Grand Budapest Hotel mengobati kerinduan para pecinta film akan karya seni dari orang-orang yang sepenuhnya mendedikasikan hidupnya untuk seni.

Rate: 10/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s