Blue Ruin (2013) Review

Judulnya sebenarnya gak appealing banget di mata gue. Awalnya gue underestimate film ini, sampe akhirnya gue putusin nonton setelah melihat Green Room (2016) yang sukses. Yeah, Blue Ruin juga digarap oleh sutradara yang sama, Jeremy Saulnier.

Sinematografi yang rapi, pemain yang mendukung, dan directing yang cermat gak membuat gue merasa sedang menonton film low-budget. Yep, gak selamanya yang bisa memuaskan batin seorang pecinta film hanyalah film-film blockbuster yang dibiayai milliaran dollar. Selama sutradara dan orang-orang yang terlibat di film itu tahu apa yang mereka lakukan, lumpur pun bisa jadi permata.

Film berdurasi 90 menit dengan budget hanya $420,000 ini dibuka dengan tayangan tanpa credit lalu diikuti adegan seorang laki-laki berjenggot yang kabur setelah sadar pemilik rumah tempat ia menyelinap mandi datang. Gue jadi bertanya-tanya siapa laki-laki ini? Adegan per adegan pun terus berjalan dengan gak banyak dialog. Sepi dan misterius.

Betapa menikmatinya gue menonton sebuah film dengan dialog yang sangat sedikit. Loe cuma perlu duduk dan melihat, akhirnya lama-lama loe mengerti apa yang sedang terjadi. Dan semuanya on point. Gak ada adegan ataupun dialog yang gak penting. Ini membuat gue menikmati Blue Ruin dari awal sampai akhir.

Film ini bercerita tentang Dwight Evans (Macon Blair) seorang gelandangan misterius yang kembali pulang ke kampung halamannya di Virginia dan menjadi seorang pembunuh amatir untuk melakukan aksi balas dendam terhadap kematian kedua orangtuanya.

Tampaknya Saulnier gemar membuat cerita tentang para amatir atau noob (Green Room juga mengangkat cerita tentang band amatir).

Kalau kita lihat pemeran utama Blair (tanpa jenggot dan rambut gondrong) tampangnya sama sekali gak mendukung untuk peran seorang pembunuh, tapi justru hal ini jadi keuntungan buat Blair, membuatnya pas untuk peran Evans dalam film ini. Keuntungan yang sama juga membuatnya mendapat peran istimewa di Green Room.

Akting Blair bagus dari awal, namun agak sedikit off di bagian akhir. Kelihatan lagi bersandiwara. Walaupun begitu, bisa gue maafkan.

Ketegangan dalam film ini gak seintens dalam Green Room. Gore juga gak sebanyak di Green Room. Tapi tetap saja, Blue Ruin memberi sensasi yang menggetarkan.

Secara visual, film ini didominasi warna biru sesuai judulnya, sama seperti Green Room yang didominasi warna hijau. Mobil biru, pakaian biru, laut biru, langit biru, tembok biru, tempat minuman biru, album biru, dan sebagainya. Akan tetapi film ini gak bermain dengan warna biru tok, ada juga beberapa bagian yang diberi warna-warna hangat seperti kuning atau oranye, warna-warna kontras yang mencegah visual film ini menjadi monoton.

Untuk soundtrack, gue suka dengan lagu penutup No Regrets karangan Otis Blackwell yang dinyanyikan oleh Little Willie John. Lagu yang berisi pesan optimistis.

Rate: 7/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s