Mythica: The Iron Crown (2016) Review

Mythica: The Iron Crown merupakan film keempat dari serial fantasi Mythica yang diproduksi oleh Arrowstorm Entertainment setelah Mythica: A Quest for Heroes (2014), Mythica: The Darkspore (2015), dan Mythica: The Necromancer (2015). Film low-budget ini disutradarai oleh John Lyde menggantikan Todd Smith yang menyutradarai film sebelumnya The Necromancer.

The Iron Crown bercerita tentang Marek (Melanie Stone) si penyihir muda dan kedua temannya Thane (Adam Johnson) si prajurit serta Dagen (Jake Stormoen) si pencuri ulung yang membajak sebuah wagon tempur bertenaga uap. Dalam wagon itu ternyata tersimpan Darkspore terakhir yang juga berhasil disita Marek. Atas pesan Gojun Pye (Kevin Sorbo) guru sihir yang menaruh kepercayaannya pada Marek, artefak terkutuk itu harus dibawa ke tempat aman agar dilindungi dewa/dewi dari tangan Szorlok (Matthew Mercer) si Necromancer jahat.

Petualangan kali ini cukup seru. Marek dan kawan-kawan harus berhadapan dengan tiga kelompok lawan baru.

Lawan pertama adalah tiga pembunuh dari alam kematian yang mengabdi pada Szorlok. Diperankan oleh orang-orang dalam kostum hitam dan topeng tengkorak. Ini merupakan ide bijak ketimbang menggunakan CGI yang masih menjadi kelemahan utama dalam serial fantasi ini.

Lawan kedua adalah tiga suruhan Hammerhead (Christopher Robin Miller) yang dikirim untuk menggantikan tempat Marek dkk yang dinilai amatir dan tidak becus dalam menjalankan misi. Mereka antara lain adalah Caia-Bekk (Ashley Santos), Rezzik (Jasen Wade), dan Thorsten (James Gaisford). Caia penyihir wanita kedua di film ini (selain Marek) adalah karakter yang cukup menarik. Alangkah senangnya melihat wanita berkulit hitam tampil di film ini. Berbeda dengan Marek, Caica memiliki ramuan-ramuan sihir yang terbilang mahal.

Lawan ketiga adalah Admiral Borlund Hess (Eve Mauro) dan pasukannya. Hess adalah pemilik wagon tempur yang dibajak Marek dkk. Gayanya yang selengean menyegarkan dan menghibur.

Karakter baru lain yang juga muncul di film ini adalah Zombie Girl (Paris Warner) salah satu sandera Hess. Transformasi dari seorang gadis bangsawan yang angkuh menjadi seorang gadis idiot mengundang gelak tawa. Gue senang Warner tidak takut berperan jelek di film ini.

Khusus untuk Marek dalam adegan action sosoknya kelihatan lebih maskulin dan gesture yang lebih pede ketimbang di film-film sebelumnya.

Untuk sinematografi, tentu saja ada perbedaan antara The Iron Crown dan film sebelumnya The Necromancer. Di sini gue tidak lagi temukan dutch angle yang menjadi ciri khas The Necromancer.

Terus terang, gue masih lebih suka The Necromancer dalam segi visual karena suasana yang digambarkan lebih mencekam. Di The Iron Crown gue banyak terganggu dengan background kabur yang menjadikan visual film ini jelas-jelas tidak nyata dan kurang meyakinkan.

Andai saja Mythica bisa ditunjang dengan dana yang besar beserta orang-orang yang jago di bidang special effect, gue yakin serial fantasi ini bisa bersanding dengan film sekelas Lord of The RingHarry Potter, ataupun film-film blockbuster lainnya, karena sudah memiliki cerita yang kaya dan karakter-karakter yang kuat.

Rate: 5/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s